Proposal Evaluasi LaTanaman Karet Di Bulukumba kec. Bulukumpa

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Karet (Havea brasiliensis) merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia sehari – hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia.

Menurut International Rubber Study Group Indonesia sebagai produsen karet nomor satu di dunia akhir – akhir ini terdesak oleh dua Negara tetangga : Malaysia dan Thailand. Peranan karet dan barang karet terhadap ekspor nasiona tidak dapat dianggap kecil mengingat Indonesia merupakan produsen karet urutan ke-2 terbesar di dunia dengan produksi sebesar 2,55 juta ton pada tahun 2007 setelah Thailand (produksi sebesar 2,97 juta ton) dan Negara yang memilki luas lahan karet terbesar di dunia dengan luas lahan mencapai 3,4 juta hektar  di tahun 2007 (Siska Amelinda, 2014).

Menurut Ditjen perkebunan, Departemenpertanian luas lahan di idonesia yang dimilki Indonesia pada tahun 2010 mencapai 2,7 – 3,4 juta hektar. Ini merupakan lahan karet yang terluas di dunia.sayangnya perkebunan karet yang luas tidak di imbangi dengan produktivitas yang memuaskan.Produktivitas lahan kaet di Indonesia rata – rata rendah dan mutu karet yang di hasilkan juga kurang memuaskan.Bahkan di pasaran internasional karet Indonesia terkenal sebagai karet bermutu rendah (Siska Amelinda, 2014).

Ada tiga jenis perkebunan karet yang ada di Indonesia yaitu perkebunan Rakyat (PR), perkebunan Besar Negara (PBN) dan perkebunan Besar Swasta (PBS). Dari ketiga jenis perkebunan tersebut, PR mendominasi luas lahan yang mencapai 2,84 juta hektar atau sekitar 85 % dari lahan perkebunan karet. Bila       dilihat pada tahun 2007, luas perkebunan rakyat mencapai 2899,7 ribu hektar sedangkan luas perkebunan besar hanya 514 ribu hektar.

Banyak perkebunan karet yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.Salah satunya di Sulawesi selatan khususnya di Kabupaten Bulukumba. Bulukumba khususnya Kecamatan Bulukumpa merupakan penghasil karet di Sulawesi selatan dengan produksi karet pada pda tahun 2010 sebanyak 7.343 ton yang terdiri dari produksi pertanian rakyat 1.250 ton dan produksi pertanian swasta 6.093 ton. Yang tersebar di 19.900 ha, dimana luas lahan pertanian karet terdiri dari perkebunan rakyat 14,105 ha dan perkebunan swasta 5.975 ha (Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan, 2011 dalam Siska Amelinda, 2014).

Dalam gambaran di atas dapat dijelaskan bahwa pertanian karet rakyat dengan luas lahan 14.105 ha memproduksi karet lebih kecil dengan 1.250 ton sedangkan pertanian karet swasta yang memilki lahan yang lebih sedikit yaitu 5.975 ha tetapi dapat memproduksi karet yang lebih besar dengan 6.093 ton.Maka terlihat masalah besar yang di hadapi oleh pertanian karet rakyat.Petani di Kecamatan Bulukumpa mengatasi masalah tersebut selalu dengan melakukan perluasan lahan.Oleh karena itu penelitian evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman Karet di kecamatan Bulukumpa perlu di lakukan, mengingat daerah ini memiliki lahan yang luas dan berpotensi untuk pengembangan tanaman karet.

 

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian lahan tanaman Karet(Havea brasiliensis)yang dikembangkan di Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba.

Kegunaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan bagi Pemerintah dan Masyarakat setempat dalampengembangan karet di Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba. Selain itu menentukan langkah-langkah apa yang harus dilakukan guna mendapatkan produksi yang optimal dan berkelanjutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TINJAUANPUSTAKA

Evaluasi Kesusaian Lahan

Evaluasi lahan merupakan bagian dari proses perencanaan tataguna lahan. Inti evaluasi lahan adalah membandingkan persyaratan yang diminta oleh tipe penggunaan lahan yang akan di terapkan, dengan sifat – sifat atau kualitas lahan yang di miliki oleh lahan yang akan di gunakan. Dengan cara ini, maka akan di ketahui potensi lahan atau kelas kesesuaian/kemampuan lahan untuk tipe penggunaan lahan tersebut (Hardjowigeno, 2007).

FAO (1976) menjelaskan bahwa kesesuaian lahan merupakan proses penilaian kecocokan lahan untuk suatu penggunaan tertentu. Inti evaluasi lahan adalah membandingkan persyaratan yang diminta oleh tipe penggunaan lahan yang akan diterapkan, dengan sifat-sifat atau kualitas lahan yang dimiliki oleh lahan yang akan digunakan (Hardjowigeno, 2007).Evaluasi kesesuaian lahan mempunyai penekanan yang tajam, yaitu mencari lokasi yang mempunyai sifat-sifat positif dalam hubungannya dengan keberhasilan produksi dan penggunaannya.Penilaian lahan pada dasarnya dapat berupa pemilihan lahan yang sesuai dengan tanaman tertentu.Hal ini dapat dilakukan dengan menginterprestasi peta tanah dalam kaitannya dengan kesesuaiannya untuk berbagai tanaman dan tindakan pengelolaan yang diperlukan (Sitorus, 1985).

Tujuan evaluasi lahan menurut FAO 1976 dan Sitorus 1985 adalah menentukan nilai suatu lahan untuk wilayah tertentu. Selanjutnya dikemukakan bahwa, dalam menentukan metode pendekatan yang akan dipergunakan untuk evaluasi lahan terlebih dahulu ditentukan dasar-dasar pokok yang dibutuhkan mencakup ketentuan sebagai berikut :

  1. Kesesuaian lahan harus didasarkan atas penggunaan yang beda memerlukan syarat yang berbeda.
  2. Diperlukan pendekatan lintas disiplin.
  3. Berdasarkan atas penggunaan lahan untuk waktu yang tidak terbatas, sampai kemudian menyebabkan kemunduran atas kerusakan lingkungan.
  4. Evaluasi lahan disesuaikan dengan kondisi fisik lahan, sosial ekonomi daerah.
  5. Diperlukan perbandingan antara keuntungan dan kerugian dalam penggunaan lahan yang direncanakan.

Evaluasi lahan dapat dilakukan pada berbagai tingkat identitas biasanya terdapat dalam berbagai skala. Aisyah 2004 membedakan enam macam survei tingkat identitas, antara lain : survei komplikasi skala (1:1.000.000), survei eksplorasi skala (1:200.000 sampai 1:500.000), survei semi detail (1:300.000 sampai 1:100.000), survei detail skala (1:100.000 sampai 25.000) dan survei intensif skala ≥1:10.000.

Pusat Penelitian Tanah Agroklimatologi Bogor, dalam melaksanakan evaluasi kesesuaian lahan dibedakan kedalam tiga tingkatan yaitu: tinjauan skala 1:250.000 atau lebih kecil, semi detail skala 1:50.000 dan detail skala 1:10.000 sampai 1:25.000 atau lebih besar. Dengan terdapatnya varietas dalam hal jenis jumlah dan kualitas data yang dihasilkan dari tiga tingkat pemetaan tersebut, maka penyajian hasil akhir evaluasi lahan ditetapkan sebagai berikut: pada tingkat tinjauan dinyatakan dalam order, tingkat semi detail dalam kelas/sub kelas, dan pada tingkat detail dalam sub kelas/sub unit (Djaenuddin dan Basumi, 1993).

 

 

Kualitas dan Karakteristik Lahan

Lahan merupakan bagian dari bentang alam yang mencakup pengertian fisik termasuk iklim, topografi, hidrologi bahkan keadaan vegetasi alami yang semuanya secara potensial akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Lahan dalam pengertian yang lebih luas termasuk yang telah dipengaruhi oleh berbagai aktivitas manusia baik dimasa lalu maupun masa sekarang.Salah satu bagian dari lahan yang memegang peranan penting dalam menopang semua proses kehidupan, khususnya tumbuh-tumbuhan dan hewan yang kemudian dikonsumsikan oleh manusia ialah tanah (soil). Dengan demikian, ruang lingkup dari lahan (land) jauh lebih luas dari tanah, akan tetapi tanah merupakan obyek yang turut menentukan tipe penggunaan lahan.(Aisyah 2004).

Agar dapat memanfaatkan lahan secara tepat dan berhasil, masalah utama yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengelola serta memilih lahan untuk suatu usaha dan setiap lahan yang akan diusahakan hendaknya dilihat dari segi-segi kesesuaian agar kelestarian dan produksi dari lahan tersebut terus terpelihara dalam waktu yang relative lama.Penggunaan lahan merupakan bagian dari upaya manusia yang sifatnya terus-menerus dalam memenuhi kebutuhannya terhadap sumberdaya lahan yang tersedia.Oleh karena itu, penggunaan lahan sifatnya dinamis mengikuti perkembangan kehidupan manusia dan budayanya (Sitorus, 1985).

Menurut Djaenuddin dan Basuni (1993), kualitas lahan adalah sifat-sifat atau atribut yang kompleks dari satuan lahan, seperti: temperature, ketersediaan air, media perakaran, retensi hara, hara tersedia, dan terrain/potensi mekanisasi, dimana masing-masing kualitas lahan mempunyai keragaman tertentu yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu. Kualitas kadang-kadang dapat di ukur atau diestimasi secara langsung di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan dari pengertian karakteristik lahan.

Setiap karakteristik lahan yang digunakan secara langsung dalam evaluasi lahan sering mempunyai interaksi satu dengan yang lainnya.Karena itu dalam interpretasi/tafsiran perlu mempertimbangkan atau membandingkan lahan dengan menggunakan dalam pengertian kualitas lahan.Sebagai contoh, ketersediaan air sebagai kualitas lahan ditentuka oleh bulan kering dan curah hujan rata-rata tahunan, tetapi air yang dapat diserap tanaman tentu terganggu pula pada kualitas lahan lainnya, kondisi zona perakaran tanaman yang bersangkutan.Kualitas lahan dan karakteristik lahan lainnya masih bisa di tambah atau dikurangi sesuai dengan tingkat dan tujuan evaluasi lahan.

Klasifikasi Kesesuaian Lahan Menurut Sistim FAO (1976)

  1. Kesesuaian Lahan Pada Tingkat Ordo (Order)

Pada tingkat ordo di tunjukkan, apakah suatu lahan sesuai atau tidak sesuai untuk suatu jenis penggunaan lahan tertentu. Di kenal ada 2 (dua) ordo, yaitu :

  1. Ordo S (sesuai) : lahan yang termasuk ordo ini adalah lahan yang dapat di gunakan dalam jangka waktu yang tidak terbatas untuk suatu tujuan yang telah di pertimbangkan. Keuntungan dari hasil pengelolaan lahan itu akan memuaskan setelah dihitung dengan masukan yang di berikan. Tanpa atau sedikit resiko kerusakan terhadap sumberdaya lahannya.
  2. Ordo N (tidak sesuai): Lahan yang termasuk ordo ini adalah lahan yang mempunyai kesulitan sedimikian rupa, sehingga mencegah penggunaannya untuk suatu tujuan yang telah di rencanakan. Lahan dapat di golonkan sebagai tidak sesuai untuk digunakan bagi usaha pertanian karena berbagai penghambat, baik secara fisik (lereng sangat curam, berbatu – batu, dan sebagainya) atau secara ekonomi (keuntungan yang di dapat lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan).
  3. Kesesuaian Lahan Pada Tingkat Kelas

Kelas Keseuaian adalah pembagian lebih lanjut dari ordo dan menunjukkan tingkat kesesuaian dari ordo tersebut.Kelas di beri nomor urut yang di tulis di belakang symbol ordo, dimana nomor ini menunjukkan tingat kelas yang makin jelek bila makin tinggi nomornya.

Banyaknya kelas setiap ordo sebetulnya tidak terbatas, akan tetapi dianjurkan hanya memkai tiga sampai lima kelas dalam ordo S dan dua kelas dalam ordo N. Jumlah kelas tersebut harus didasarkan kepada keperluan minimum untuk mencapai tujuan – tujuan penafsiran.

Jika tiga kelas yang di pakai dalam ordo S dan dua kelas yang di pakai  dalam ordo N, maka pembagian serta definisi secara kualitatif adalah sebagai berikut :

  1. Kelas S1: sangat sesuai (highly suitable). Lahan tidak mempunyai pembatas yang besar untuk pengelolaan yang di berikan, atau hanya mempunyai pembatas yang tidak secara nyata berpengaruh terhadap produksi dan tidak akan menaikkan masukan yang telah biasa di berikan.
  2. Kelas S2: cukup sesuai (moderately suitable). Lahan mempunyai pembatas – pembatas yang agak besar untuk mempertahakan tingkat pengolahan yang harus di terapkan. Pembatas akan mengurangi produk atau ke untungan dan meningkatkan masukan yang diperlukan.
  3. Kelas S3: sesuai marginal (marginally suitable) Lahan mempunyai pembatas – pembatas yang besar untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus di terapkan. Pembatas akan mengurangi produksi dan keuntungan atau lebih meningkatkan masukan yang di perlukan.
  4. Kelas N1: tidak sesuai pada saat ini (currently not suitable). Lahan mempunyai pembatas yang lebih besar, masih memungkinkan diatasi, tetapi tidak dapat di perbaiki dengan tingkat pengelolaan dengan modal normal. Keadaan pembatas sedemikian besarnya, sehingga mencegah penggunaan lahan yang lestari dalam jangka panjang.
  5. Kelas N2: tidak sesuai untuk selamanya (permanently not suitable) lahan mempunyai pembatas permanen yang mencegah segala kemungkinan penggunaan lahan yang lestari dalam jangka panjang.
  6. Kesesuaian Lahan Pada Tingkat Sub – Kelas

Sub – kelas kesesuaian lahan mencerminkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang di perlukan dalam kelas tersebut.

Tiap kelas dapat terdiri dari satu atau lebih sub – kelas, tergantung dari jenis pembatas yang ada. Jenis pembatas ini di tunjukkan dengan symbol huruf kecil yang di tempatkan setelah symbol kelas. Misalnya kelas S2 yang mempunyai pembatas kedalaman efektif (s) dapat menjadi sub – kelas S2s. Dalam satu sub – kelas dapat mempunyai satu, dua, atau paling banyak tiga simbol pembatas, dimana pembatas yang paling dominan di tulis paling depan. Misalnya, dalam sub – kelas S2ts maka pembatas keadaan topografi (t) adalah pembatas yang paling dominan dan pembatas kedalaman efektif (s) adalah pembatas kedua atau tambahan.

4.Kesesuaian Lahan Pada Tingkat Unit

Kesesuian lahan pada tingkat unit merupakan pembagian lebih lanjut dari sub – kelas berdasarkan atas besarnya faktor pembatas. Semua unit yang berada dalam satu sub – kelas mempunyai tingkat kesesuaian yang sama dalam kelas dan mempunyai jenis pembatas yang sama pada tingkat sub – kelas.

Unit yang satu berbeda dengan unit lainnya karena kemampuan produksi atau dalam aspek tambahan dari pengelolaan yang di perlukan dan sering merupakan pembedaan detil dari pembatas – pembatasnya. Diketahuinya pembatas secara detil memudahkan penafsiran dalam mengelola rencana suatu usaha tani.

Pemberian symbol dalam tingkat unit dilakukan dengan penambahan    angka – angka Arab yang di pisahkan oleh strip dari simbol sub-kelas. Misalnya S2e-1, S3e-2 dan sebagainya. Unit dalam satu sub-kelas jumlahnya tidak terbatas.

Tanaman Karet (Havea brasiliensis)

Tanaman karet (Havea brasiliensis)berasal dari negara  Brazil.Tanaman ini merupakan sumber utama bahan tanaman karet alam dunia. Jauh sebelum tanaman karet ini dibudidayakan, penduduk asli diberbagai tempat seperti: Amerika Serikat, Asia dan Afrika Selatan menggunakan pohon lain yang jugamenghasilkan getah. Getah yang mirip lateks juga dapat diperoleh dari tanaman Castillaelastica(family moraceae).

Sekarang tanaman tersebut kurang dimanfaatkan lagi getahnya karena tanaman karet telah dikenalsecara luas dan banyak dibudidayakan.Sebagai penghasil lateks tanaman karet dapat dikatakan satu-satunya tanaman yang dikebunkan secara besar – besaran(Setiawan, 2005).

Karet cukup baik dikembangkan di daerah lahan kering beriklim basah. Tanaman karet memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan komoditas lainnya, yaitu: (1) dapat tumbuh pada berbagai kondisi dan jenis lahan, serta masih mampu dipanen hasilnya meskipun pada tanah yang tidak subur, (2) mampu membentuk ekologi hutan, yang pada umumnya terdapat pada daerah lahan kering beriklim basah, sehingga karet cukup baik untuk menanggulangi lahan kritis, (3) dapat memberikan pendapatan harian bagi petani yang mengusahakannya, dan (4) memiliki

Prospek harga yang cukup baik, karena kebutuhan karet dunia semakin meningkat setelah China membuka pasar baru bagi karet IndonesiaSecara lengkap, tanaman karetdiklasifikasikan sebagai berikut :

Divisi: Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas: Dicotyledonae

Ordo: Euphorbiales

Family: Euphorbiaceae

Genus : Hevea

Spesies: Hevea brasiliensisMuell Arg.

(Setyamidjaja, 1993).

Syarat Tumbuh Tanaman Karet

1.Iklim

Daerah yang cocok adalah pada zone antara 150 LSdan 150 LU, dengan suhu harian 25 – 30oC.

 

2.Curah hujan

Tanaman karet memerlukan curah hujan optimalantara 2.000 – 2.500 mm/tahun dengan hari hujan berkisar 100 s/d 150 HH/tahun.Lebih baik lagi jika curah hujan merata sepanjang tahun.Sebagai tanaman tropis, karet membutuhkan sinar matahari sepanjang hari, minimum 5 – 7 jam/hari.

  1. Tinggi tempat

Tanaman karet tumbuh optimal pada dataran rendahdengan ketinggian 200 m – 400 m dari permukaan laut(dpl). Pada ketinggian > 400 m dpl dan suhu harian lebih dari 30oC, akan mengakibatkan tanaman karet tidak bias tumbuh dengan baik.

  1. Angin

Kecepatan angin yang terlalu kencang pada umumnyakurang baik untuk penanaman karet.Tanaman karetmerupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatangbesar.Tinggi pohon dewasa mencapai 15 – 25 m. Batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas.

5.Tanah

Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarattumbuh tanaman karet baik tanah vulkanis maupun alluvial.Pada tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik terutama struktur, tekstur, solum,kedalaman air tanah, aerasi dan drainase, tetapi sifat kimianya secara umum kurang baik karena kandungan haranya rendah.Sedangkan tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya kurang baik sehingga drainase dan aerasenya kurang baik.Tanah – tanah kurang subur seperti podsolik merah kuning yang ada di negeri ini dengan bantuan pemupukan dan pengelolaan yang baik bisa dikembangkan menjadi perkebunan karet dengan hasil yang cukup baik.Padas pada lapisan olah tanah tidak disukai tanamankaret karena mengganggu pertumbuhan dan perkembangan akar, sehingga proses pengambilan hara dari dalam tanah terganggu. Derajat keasaman mendekati normal cocok untuk tanaman karet, yang paling cocok adalah pH 5 – 6.Batas toleransi pH tanah adalah 4 – 8. Sifat – sifat tanah yang cocok pada umumnya antara lain; aerasi dan drainase cukup, tekstur tanah remah, struktur terdiri dari 35% tanah liat dan 30% tanah pasir, kemiringan lahan <16% serta permukaan air tanah < 100 cm.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Bulukumpa Kabupaten Bulukumba, yang berlangsung dari bulan September sampai dengan Desember2016. Penelitian ini meliputi;

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan selama 10 tahun (2003-2013) yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kabupaten Maros.Peta penggunaan lahan, peta lereng dan peta tanah dengan skala masing-masing1 : 100.000 yang diperoleh dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Bulukumba.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah meteran, abney level, kantong plastik, cangkul, gunting, pisau, sampel tanah, dan seperangkat alat laboratorium seperti timbangan, botol film, gelas ukur dan alat tulis menulis.

 

MetodePenelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey yang meliputi empat tahap yaitu :

  1. Tahap Pengumpulan Data

Data yang diperlukan meliputi data primer dan data sekunder. Pengumpulan data-data meliputi pengumpulan informasi sumberdaya lahan yang tersedia pada berbagai dinas dan instansi terkait seperti : temperature curah hujan 10 tahun terakhir dari badan meteorology klimatologi dan geofisika kabupaten Maros dan kelerengan, permukaan dan bahaya banjir.

  1. Tahap Pelaksanaan
  2. Pembuatan peta kerja atau unit lahan

Peta unit lahan diperolah dari hasil overly antara peta penggunaan lahan dengan peta tanah dan peta lereng.Peta ini merupakan peta kerja sekaligus menjadi petunjuk dalam menentukan titik – titik pengambilan sampel tanah dilapangan.

  1. Pengamatan dan pengambilan sampel tanah

Untuk mengetahui data karekteristik tentang lahan, maka dilakukan pengamatan sekaligus pengambilan sampel tanah.Persiapan pengamatan profil berdasarkan petunjuk yang dikemukakan dalam pedoman pengamatan tanah di lapangan.Hal-hal yang diamati seperti topografi, vegetasi, struktur tanah, ada tidaknya batuan permukaan, batuan singkapan, porositas, konsistensi, kedalaman tanah dan kedalaman perakaran, (Anonym, 1969).

Contoh tanah yang diambil dari setiap lapisan berdasarkan horizon yang dimulai dari lapisan bawah.

  1. Analisis Tanah

Contoh tanah yang digunakan untuk menganalisa sifat fisik tanah dan sifat kimia tanah terlebih dahulu dikering udarakan.Sifat tanah yang dianalisis disesuaikan dengan informasi yang diperlukan untuk penelitian kesesuaian lahan berdasarkan metode FAO.

Tabel 1.Parameter dan Metode Pengukuran Analisis Biofisik Lahan di Kecamatan Bulukumpa.

No. Parameter Metode
1.

2.

3.

4.

5.

6.

Tekstur

KTK tanah

pH tanah

N-total

P2O5

K2O

Hydrometer

Ekstrak NH4OAc ph 7,0

Gelas elektroda

Kjehdahl

Olsen

Ekstrak KCl 25%

 

  1. Interprestasi Data Untuk Penentuan Kelas Kesesuaian Lahan

Penentuan kelas kesesuaian lahan digunakan karakteristik lahan melalui evaluasi yaitu temperatur rata-rata tahunan, bulan kering, curah hujan rata-rata tahunan (mm), kelas draenase, tekstur tanah, kedalaman perakaran (cm), kapasitastukar kation (KTK), pH tanah, N-total (%), P2O5 tersedia, K2O tersedia, salinitas (mm hos/cm), lereng (%), batuan permukaan dan singkapan batuan. Data yang diperlukandihubungkan dengan faktor penentu kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk besar.Penentuan kelas kesesuaian lahan ini berdasarkan pada metode FAO dengan menggunakan pendekatan pembatas.

  1. Penentuan Kelas Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Karet

Setelah mendapat hasil analisis laboratorium dan pengamatan dilapangan, maka selanjutnya dapat menentukan tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk besar hingga kategori sub-kelas serta menentukan kelas kasesuaian lahannya berdasarkan karakteristik lahan yang telah diamati.  Penentuan kelas kesusesuaian lahan dilaksanakan dengan cara mengklasifikasikan antara kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman jeruk besar dengan sifat karakteristik lahan.

Metode evaluasi lahan yang digunakan dengan mengacu kepada faktor pembatas minimum dari sebagai karakteristik lahan. Faktor pembatas minimum tersebut merupakan kelas kesusaian lahan aktual yang dapat memberikan gambaran akan potensi lahan untuk saat ini. Dilakukannya tindakan perbaikan untuk dapat meningkatkan kelas kesesuaian lahanaktual menjadi kelas kesesuaian lahan potensial. Penentuan kelas kesesuaian lahan antara kualitas/karakteristik lahan dengan berdasarkan table FAO untuk kriteria atau karakteristik tanaman karet yang dapat dilihat pada tabel dibawah ini sebagai berikut :

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s